Kegetiran Menjadi Dewasa [Norwegian Wood, Haruki Murakami]

Selain daripada Norwegian Wood, saya belum bisa ingat buku mana yang meninggalkan kesan nelangsa begitu kuat namun diam-diam memberikan pencerahan. Soalnya buku ini memang depresif—bagi saya tapi membuat saya merenungkan kembali kehidupan saya. Selesai membacanya saya langsung menutup buku, dan hari itu saya menghela nafas.

Pada fase tertentu dalam hidup, ada sebuah kondisi yang saya alami namun selama ini tidak bisa saya deskripsikan secara tepat. Tak tau namanya apa. Orang-orang menyebutnya ‘hampa’ tapi bagi saya ‘hampa’ pun tidak mendekati gambaran yang saya harapkan. Tapi Murakami berhasil mendeskripsikan perasaan itu lewat tokoh Toru Watanabe dalam buku ini.

“Di dalam tubuhku terbentuk lubang, dan tidak ada sesuatupun yang menutupinya, lubang itu tetap ternganga seperti semula. Aneh tubuhku terasa ringan dan bergema.” Hal. 61

Saat membaca kalimat ini, pandangan saya langsung menerawang. Dalam hati saya berkata, saya tahu perasaan ini. Saya tahu bagaimana lelahnya perasaan macam itu.

Anehnya saya menyukai buku ini. Buku yang saya nikmati adalah buku yang bisa memantik pertanyaan-pertanyaan dalam hidup saya. Yang kemudian entah sekarang atau nanti akan saya temukan jawabannya melalui pengalaman hidup saya sendiri. Dan itulah yang dilakukan Norwegian Wood terhadap saya.

Buku ini mengisahkan Toru Watanabe, seorang mahasiswa bidang studi Drama universitas swasta di Tokyo yang biasa-biasa saja, suka baca buku tapi tidak ingin jadi apa pun, tidak punya keahlian, hidupnya seperti nothing to loose. Tidak tahu apa yang dilakukan, dan tidak tahu apa yang ingin dilakukan kelak.

“Teman-teman di asrama menganggap aku ingin jadi pengarang karena selalu membaca buku sendirian padahal aku sendiri tidak ingin jadi pengarang. Aku tak ingin jadi apapun.” Hal. 42

Watanabe memiliki sahabat laki-laki bernama Kizuki, dan Kizuki mati bunuh diri saat masih SMA. Lewat Kizuki inilah dulu Watanabe mengenal Naoko yang merupakan pacar Kizuki. Kematian Kizuki meninggalkan luka yang dalam bagi mereka berdua. Sebab dia satu-satunya teman yang dimiliki Watanabe. Sejak kematian Kizuki, Watanabe dan Naoko tidak pernah bertemu sampai lulus SMA dan masuk universitas di Tokyo. Pada pertengahan Mei di tahun pertama kuliah, secara kebetulan Watanabe bertemu dengan Naoko di kereta. Naoko tanpa alasan tertentu mengajak Watanabe jalan kaki mengitari kota. Naoko yang menyimpan sesuatu dalam dunianya sendiri, pendiam, tidak bisa mengekpresikan apa yang ingin diungkapkan. Membuat orang lain sulit memahaminya. Tak terkecuali Watanabe. Dari situlah pertemanan mereka kembali dimulai, sampai hampir satu tahun.

Pada ulang tahun Naoko yang ke 20 mereka merayakannya berdua di apartemen Naoko. Naoko tiba-tiba menangis dan tidak bisa berhenti menangis, ada sesuatu yang membuatnya pilu namun tidak bisa ia ungkapkan. Watanabe akhirnya tidur (berhubungan seks) dengan Naoko tanpa mengerti apa yang sedang dilakukannya. Itu terjadi begitu saja. Sejak saat itu keesokan harinya Naoko menghilang dan itulah yang menjadi awal penantian dan perjalanan Watanabe dalam memahami kehidupan dan kematian, memahami dirinya sendiri, dan memahami makna cinta yang sebenarnya.

Perjalanan nafsu-nafsi yang mempertemukannya dengan Nagasawa, Hatsumi, Midori, Reiko dll. Tokoh-Tokoh ini tanpa Watanabe sadari membantunya sedikit demi sedikit memahami dirinya sendiri. Tokoh-tokoh yang menurut saya unik. Yang paling nyentrik dan berkesan kuat menurut saya adalah Nagasawa dan Midori. Nagasawa ini pintar, kaya-raya, terobsesi pada seks, karismatik, hobinya baca buku klasik yang penulisnya sudah 30 tahun meninggal, yang selain itu… Nagasawa tidak mau membacanya. Dalam definisi Watanabe sendiri Nagasawa itu kelewat stoic.

“Nagasawa-san adalah lelaki yang punya sifat kontradiktif dalam dirinya. Suatu saat ia bersikap lembut sampai-sampai aku terkagum-kagum dibuatnya; dan bersamaan dengan itu ia sangat pendengki. Tanpa diduga-duga ia memperlihatkan berhati mulia tapi pada saat itu pula ia menunjukkan sifat-sifat duniawi yang tak ketulungan. Ia akan mendorong orang-orang untuk terus maju dengan penuh optimis, namun di balik itu batinnya bergelut di dasar lumpur pekat yang kelam sendirian.” Hal. 47

Seperti yang sudah saya katakan dari awal. Buku ini nuansanya depresif, hingga membuat saya sendiri ikut nelangsa. Tapi terima kasih kepada Murakami karena menciptakan tokoh Midori untuk novel ini. Karena Midorilah saya bisa tertawa sampai menangis getir. Kehidupannya membuat saya haru. Sifat polos tapi ‘nyentrik’nya menghibur saya ternyata menyimpan kisah depresifnya sendiri.

Ah… I have so much emotions for this book! Saya mempertimbangkan akan memberi bintang empat ataukah lima untuk novel yang sarat perenungan ini. Melalui pertanyaan-pertanyaan hidup semacam: Apa sebenarnya yang aku cari? Lalu apa gerangan yang dicari orang lain dariku? Apa gerangan yang sedang kulakukan ini? Mau kemana sebenarnya aku ini? Buku ini memberikan kita gambaran mengenai manusia-manusia yang teralienasi, terkucilkan di dunia. Naoko menggambarkan dirinya sendiri, tentang perasaan yang muncul ketika mendengar lagu Norwegian Wood milik The Beatles:

“Rasanya seperti kesasar di dalam hutan rimba. Sendirian, kedinginan, dan gelap. Tak seorang pun datang menolongku.” Hal. 161

image
From instagram @zenithoclock

Ada beberapa poin yang mejadi catatan saya ketika saya membaca buku ini.

Kehidupan Dan Kematian

Sebuah buku ditulis seringkali memotret masayarakat dimana sang penulis tinggal. Baik itu kehidupan sekitar ataupun kejadian-kejadian dunia yang memantik perhatian atau menggangu pikiran sang penulis. Karena mengalami hal-hal itulah penulis memiliki dorongan kuat untuk menulis.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jepang tercatat memiliki tingkat bunuh diri (harakiri) yang tinggi. Tidak heran ketika saya menemukan ada lima bunuh diri dalam novel ini. Untuk satu buku mungkin angka ini terlalu boros. Sampai-sampai saya berpikir, seolah Murakami dengan enteng saja membunuh tokohnya, mati suatu hal yang mudah, tinggal bunuh diri saja dalam masyarakat Jepang.

Namun saya cepat menyadari, tentulah tidak sepenuhnya demikian. Justru hal ini menggambarkan, seseorang ketika tidak memiliki harapan dan tujuan hidup lalu bunuh diri dan mati, menyisakan dampak tersendiri bagi orang-orang yang ditinggalinya. Tokoh Watanabe baru mulai mempertanyakan eksistensinya setelah kematian Kizuki sahabatnya yang sungguh berarti. Sampai Watanabe terlalu memikirkan segala sesuatu dengan serius dan menemukan sebuah epiphany.

“Di dalam kehidupan, semuanya dan segalanya berputar mengitari kematian.” Hal. 36

Watanabe menganggap kematian tidaklah berlawanan dengan kehidupan… tetapi ada sebagai  bagiannya dan kita hidup dengan menghirupnya seakan-akan debu halus ke dalam paru-paru kita.

Masa Transisi Menuju Umur 20-an

Saya sungguh-sungguh sangat memahami bagaimana kegetiran selagi tumbuh dewasa yang diangkat Murakami dalam novel ini. Because, being 20-something is really hard y’all, it felt like the world was really scary and I on a personal note, have been really struggling going through this rough patch. From knowing what I was doing to completely not knowing what I was doing.

When life gets in the way, where we hit the roadblocks, questioning, wondering, whether I really want to be what I want, whether I should give up and get a frickin’ real job.

Dalam kacamata Watanabe sendiri:

“Aku tak tahu pasti dimana aku berada. Pun aku tak punya keyakinan bahwa aku sedang berjalan ke arah yang benar. Aku hanya berjalan selangkah demi selangkah karena tidak boleh tidak aku harus menuju suatu tempat.” Hal. 347

Boleh jadi masa remaja (teenager) kita itu memang masa yang indah. Banyak masa-masa optimis pada periode itu. Bermimpilah setinggi langit! as cliche as it seems menjadi jargon anak-anak muda dan tak apa. Lalu ketika memasuki usia 20-an, then reality bites! kita belajar bagaimana jadi realistis. Saat dimana kita mulai suka menyalahkan diri sendiri, berani ambil keputusan tapi kemudian merasa bersalah, can you imagine the contradictory.

“Umur 20 tahun itu rasanya konyol juga ya, aku sama sekali tidak siap memasuki usia ke-20 ini. rasanya aneh sekali. Seperti didorong-dorong secara paksa.” – Naoko, Hal. 55

“Mungkin kami harus mengembalikan sesuatu yang telah kami pinjam dari alam, seperti kegetiran selagi tumbuh dewasa. Karena kami tidak membayar ketika harus membayarnya, sekarang bon tagihan itu berdatangan” – Naoko (Hal. 191)

This line, something about it shakes me, rattles me at my core even. Murakami menganalogikannya dengan sempurna melalui pandangan Naoko itu.

Di novel ini Murakami juga melukiskan potret pemuda Jepang tahun 1960-an yang hypocrite, melalui mata  Watanabe, Midori dan Nagasawa.

“Mereka tak mengerti apa-apa, tapi pura-pura paham, tertawa cengengesan.” Hal. 264

“Mereka hidup dalam kecemasan, mereka takut ketidaktahuan mereka diketahui orang lain.” Hal. 265

“Pada prinsipnya dunia ini tidak adil. Kenapa mereka tidak mau berusaha? Kenapa mereka hanya menggerutu tanpa usaha?”Hal. 298

Masyarakat Jepang, pada masa itu memang kelihatannya bekerja sekuat tenaga. Tapi bagi Nagasawa, bekerja saja bukan merupakan usaha.

“Yang aku maksud dengan usaha adalah sesuatu yang punya tujuan dan dilakukan dengan daya juang yang tinggi.” Hal. 299

Memaknai Cinta

Ya, alur utama novel ini memang kisah cinta. Perjalanan cinta Watanabe sang tokoh utama. Yang bisa aku dapatkan perihal cinta dari membaca buku ini adalah, bahwa dalam hidup, jatuh cinta pada lebih dari satu orang pada saat yang bersamaan itu memang ada dan memungkinkan. Kitanya saja sebagai manusia yang suka berusaha menepis-nepis naluri itu karena suatu norma masyarakat yang mengikat mungkin. Bisa jadi tidak kau sadari, meskipun itu ada dalam dirimu. Cinta tersebut dalam perjalanannya akan mendefinisikan dirinya sendiri. Setiap cinta yang kau alami itu punya definisinya masing-masing. It will unfolding over the time. Sesuatu memang membedakan dirinya dari yang lain.

Di sini, saya juga jadi paham apa dan bagaimana hubungan cinta yang alami dan tidak alami. Baca saja sendiri ya.

The Vivid life of Human Being

Salah satu yang juga menjadi bagian menarik dalam buku ini adalah, kehidupan tokohnya yang vivid. Tokoh-tokohnya memiliki sifat dan latar kehidupan yang sangat unik. Setiap manusia memang memiliki kepelikan hidupnya sendiri. Masalah yang tidak bisa diungkapkan dan selamanya akan menjadi rahasia hingga kematiannya.

I become more acknowledged that everyone has different circumstances. Stop Judging people and learn to respect them. Judging other people is harmful. You don’t know everyone’s full story and what most people are going through. Karena yang kita lihat hanyalah potongan cerita hidup seseorang sehingga tidak tahu apa yang telah dia lewati sebelumnya.

Lain kali kalau kalian gatel pingin menjudge orang, pause a little while, have that *sonder moment dan bertanya sama diri kalian sendiri, “kehidupan seperti apakah yang telah dijalaninya?” Can I put myself in this person’s shoes? Can I learn more about their story?

Mungkin kehidupan akan jadi lebih tenteram.

“Semua orang terlihat bahagia, apakah mereka betul-betul bahagia, atau hanya terlihat seperti itu.” – Watanabe

Sekali lagi, bagi saya pribadi, tokoh yang paling saya suka di sini adalah Midori, dia nyentrik, polos, penuh rasa ingin tahu, dan juga lucu.

Pandangan Lelaki Terhadap Seks

Oh man! bagi yang tidak terbiasa dengan adegan seks dalam sebuah karya sastra, mungkin kamu akan merasa syok and feel a lil bit awkward membacanya. Sayalah salah satunya. Ini pertama kalinya saya membaca  karya sastra yang begitu polos dan gamblang menggambarkan adegan  seks. Sampai-sampai saya harus menunda membacanya begitu menemukan adegan seks pertama. Karena waktu itu bulan puasa, dan harus menunggu bulan puasa berlalu, baru saya mulai membacanya lagi. Bahaya bisa terangsang di bulan puasa. (Haha)

Kadang-kadang saya sampai tidak mengerti kenapa mereka (tokoh-tokoh dalam novel ini) melakukannya, mereka saja melakukannya seperti hal yang lumrah, apakah seks bebas adalah hal lumrah bagi pemuda Jepang di masa itu? kenapa begitu, dan kenapa sampai pula dengan pilihan orang yang itu.

Tapi melalui ini, kamu jadi tau bagaimana pandangan lelaki atas seks, jadi buat para cewek-cewek, my girls squad. Jangan mudah baper dan meromantisasi seks. Bagi kita hubungan seks itu mungkin suatu hal yang berharga dan hanya ingin kita lakukan dengan orang yang paling berharga pula dalam hidup kita. But, Man has different views about sex. Take that on note!

Drama Euripides!

Yeeey! Akhirnya sampai di bagian akhir tulisan ini. Saya sangat terkesan dan bersyukur Murakami menyelipkan tentang Drama Euripides melalui adegan yang random yet so heart-warming sih menurut saya.

Norwegian Wood

Watanabe bercerita pada Ayah Midori yang sekarat dan sudah hilang setengah kesadarannya karena tumor otak, bahkan kalau bicarapun tidak karuan dan tidak jelas. Lalu membuat Ayah Midori jadi mau makan timun karena melihat Watanabe makan timun, dan menyebutnya enak, padahal tidak pernah sekalipun sebelumnya Ayah Midori menyebut suatu makanan enak sehingga hanya makan satu sendok saja. Itu adalah suatu hal yang membuat saya lucu juga, so random yet still respect that. Itu salah satu adegan favorit saya.

Drama Euripides itu sangat menarik! Kalian harus membacanya sendiri ya! This is an excerpts:

“pada prinsipnya mustahil semua kebenaran dan kebahagiaan yang manusia kejar itu terpenuhi. Jadi timbullah kondisi chaos yang luar biasa. Kira-kira menurut Bapak apa yang terjadi? Ini persoalan yang benar-benar mudah, karena pada akhirnya muncullah Tuhan.” Hal. 281

Pada akhirnya, saya harus memberikan ⭐️⭐️⭐️⭐️ untuk buku ini!

Ket: *sonder = the realisation that each passer-by is living a life as complex as your own

XO,

Sofia

One Reply to “Kegetiran Menjadi Dewasa [Norwegian Wood, Haruki Murakami]”

  1. Best. Watanabe, kutu buku militan yang (hanya) ingin menikmati buku yang sudah dibaptis waktu 30 tahun, beberapa pengecualian. Ada benarnya, tapi nggak sepenuhnya. 😅

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s