Yang Tidak Pernah Saya Katakan Pada Orang Lain

Saya suka membaca sejak sekolah dasar. Terima kasih kepada Ibu yang pada masa kecil saya, membeli komik Felix dan majalah Bobo untuk saya setiap kali kami selesai belanja kebutuhan rumah tangga. Karna sejak saat itu saya jadi menyukai cerita. Terlebih saat saya mampu membacakan untuk diri saya sendiri. Semua anak-anak menyukai cerita atau dongeng, ada anak yang suka dibacakan atau didongengi oleh orang tuanya dan ada anak yang lebih suka membacanya sendiri, saya termasuk jenis yang kedua. Orang tua saya tidak banyak mendongengi saya. Tapi sebagai ganti mereka tidak pernah menolak ketika saya menginginkan buku.

Kegiatan membaca perlahan menjadi sesuatu yang saya butuhkan setiap hari. Hingga mengantarkan saya pada keinginan untuk menulis. Cerita pertama yang saya tulis sendiri yaitu saat sekolah dasar. Saya menulis semacam komik, saya menggambarnya sendiri. Gambar yang sangat tidak bagus. Tapi yang penting bagi saya adalah perkataan dalam bubble itu sendiri. Saya tidak peduli gambar, saya sangat buruk dalam menggambar. Garis-garis tunggal dengan sudut yang tepat menggambarkan apa yang dilakukan tokoh sudah cukup bagi saya. Tapi pada akhirnya buku tulis Sinar Dunia itu menjadi satu komik penuh buatan saya.

Saya melakukannya hanya untuk menyenangkan diri saya sendiri, satu-satunya orang yang mau membacanya saat itu adalah sahabat masa kecil saya.

Saya tidak pernah punya impian khusus/serius menjadi penulis hingga masa SMA. Meski ada masa dimana saya mewakili sekolah dalam perlombaan menulis cerpen saat sekolah dasar. Masa SMP saya tidak banyak bersentuhan dengan sastra, tapi menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sebab karena salah satu materinya tentang menulis diary, saya jadi banyak menulis diary.

Satu momen ajaib saya yang berhubungan dengan kepenulisan adalah: soal ujian Bahasa Indonesia yang menyuruh kami membuat satu cerpen bertema tertentu. Dan saya menulisnya pada lembar jawaban penuh. Beberapa hari setelahnya, seorang teman memberi tahu saya bahwa ia telah membaca cerpen saya di MADING sekolah. Saya terkejut karena tidak pernah mengirim apapun ke pengurus mading saat itu. Dan saya pun pergi melihatnya, itu adalah cerpen dari soal ujian Bahasa Indonesia tempo hari. Belakangan guru Bahasa Indonesia saya saat itu yang kebetulan pembina majalah dinding sekolah, memberi tahu saya, bahwa beliau memilih cerpen saya untuk ditempel di mading karena menurutnya menarik. Sekarang saya merasa kesal: tidak bisa mengingat tentang apa cerita yang saya buat itu.

Ketika ditanya akan menjadi apa di kemudian hari, pada saat saya berumur 10-12 tahun, saya jawab dengan entengnya: saya ingin jadi dokter. Sekarang, betapa saya menertawakan diri saya yang masih kecil itu. Saat berusia 15, sesungguhnya saya tidak tau keinginan saya di masa depan akan melakukan apa, tapi saya harus berpura-pura mempunyai cita-cita supaya dianggap keren. Karena lingkungan saya punya semacama aturan bahwa semakin keren cita-citamu maka kamu semakin keren. Saya beranjak sedikit realistis meskipun ini sebuah kepura-puraan, saya menjawab: oke mungkin saya akan lanjut sekolah keperawatan, dan menjadi perawat, klo tidak lulus ya lanjut SMA biasa. Saat itu saya hanya berfokus pada bagaimana mendapat nilai 100 di setiap mata pelajaran, jadi saya tidak banyak bersentuhan dengan sastra. Tapi satu hal yang banyak saya lakukan adalah menulis diary. That’s it.

Di usia 16 tahun, saya mulai banyak membaca buku dan majalah, novel, kumpulan cerpen, maupun buku-buku praktis. Saya masih sering menulis diary, bahkan setiap hari, itulah yang saya lakukan. Di usia itu saya mulai mengenal sastra dengan kesadaran penuh, sebab sering ditunjuk oleh sekolah untuk mengikuti acara-acara sastra di luar sekolah. Di usia itu pula saya mulai iseng-iseng menulis cerita dan ikut perlombaan menulis. Menjadi pengurus mading dan mulai akrab dengan jurnalisme.

Tapi ketika saya ditanya kembali akan menjadi apa saya nantinya, saya tidak pernah berani mengatakan dengan pasti bahwa saya ingin jadi penulis. Mengenai cita-cita, saya bisa dikatakan plin-plan, saya ingin jadi wartawan, tapi ilmuwan boleh juga, sepertinya keren juga jadi orang kantoran dsb. Tapi di dalam hati, entah mengapa saya selalu berkata saya ingin jadi penulis. Saya tidak punya keberanian menjawab itu dengan lisan jika orang-orang menanyai saya. Sebab sekalipun saya menulis beberapa cerita pendek, itu bukanlah hal yang sedang serius saya lakukan. Itu adalah kegiatan sampingan di waktu luang. Yang serius saya lakukan adalah belajar agar mendapatkan nilai 100 di tiap mata pelajaran. Dari sini, setidaknya lebih masuk akal menjawab jadi orang kantoran/ilmuwan karna yang sedang saya lakukan dan miliki pada saat itu adalah nilai-nilai mata pelajaran yang bagus.

Hal yang perlu saya sampaikan adalah saat saya menulis, saya mencintai kegiatan itu. Dan saya berujar pada diri saya; kelak entah dengan jalan seperti apa saya akan jadi penulis. Dan ini terus berlanjut sampai saya memasuki usia 20 hingga saya menulis postingan ini.

Foto: Instgram/Milla Rezanova

Menjadi mahasiswa Matematika, membuat waktu menulis saya sangat sedikit. Namun saya tetap melakukannya. Karena hanya dengan menulis saya semakin mengenali diri saya. Dengan menulis saya bisa mengatakan apa yang ingin saya katakan, saya bisa menjelaskan kemarahan saya pada dunia, saya bisa memprotes sesuatu yang terasa tidak baik. Sebab dalam komunikasi lisan, saya tidak selalu diizinkan mengatakan apa yang ingin saya katakan. Dan dengan menulis, saya merasa memenuhi panggilan yang entah darimana.

Tetap saja, saya tidak bisa mengatakan dengan lisan: saya akan menjadi penulis. Sebab saya sedang berkutat dengan teorema-teorema matematika. Pun tidak banyak karya saya yang berhasil dimuat media cetak. Hingga pada saat saya menulis ini, karya saya yang berhasil dimuat media massa hanya tiga buah cerpen.

Jika yang sedang saya lakukan adalah menulis banyak cerpen, atau menulis beberapa halaman novel, mungkin saya berani mengatakan: saya ingin jadi penulis.

***

Tapi tentu saja, sangat jarang penulis buku yang ketika menulis buku pertamanya, tidak menyambi pekerjaan lain. Banyak yang bilang, pekerjaan sebagai penulis itu tidak cukup menghidupi. Terutama sekali bagi yang baru menulis karya pertama mereka.

Ya contohnya saya ini, saya sadar bahwa saya harus mensupport diri saya dan kegiatan menulis saya. I never asked the ‘writing’ to support my life financially, but I will support my ‘writing’, writing is my home, and I will support my home as hard as I can do. Dan sekarang saya sedang berusaha mendapatkan pekerjaan. Do’akan ya. πŸ™‚

XO, Sofia

3 Replies to “Yang Tidak Pernah Saya Katakan Pada Orang Lain”

  1. Kegemaran membaca emang secara ga langsung selalu menghantarkan orang buat suka nulis, ya πŸ™‚ Aku di masa kecil juga ga pernah bayangin mau atau bakal jadi seorang penulis. Jawabnya apa coba? Pengen jadi pramugari dan sampe sekarang gatau kenapa jawab begitu xD Tapi aku udah suka baca dari dulu, dimulai dari majalah Bobo. Tiap minggu edisi baru majalah itu musti tersedia di rumah, kalo enggak aku ngambek :p Haha. Mulai menyadari diri pengen jadi penulis baru sejak SMA, lalu mulai mengincar jurusan Sastra untuk kuliah, dilanjut pekerjaan yang berhubungan dengan kepenulisan. Semangat mengejar mimpi, Sophie. Ga peduli apa pun kegiatannya, kalo kita ga pernah berhenti nulis, kita tetap seorang penulis kok πŸ™‚

    Liked by 1 person

    1. Wah pramugari! emang yg mainstream buat anak2 itu aja ya: dokter, pilot, pramugari, insinyur, gitu. πŸ˜‚

      Thanks sun, jujur kecemasan itu selalu ada, beresiko besar, dan menuntut disiplin. Musuhnya ada di dlm diri sendiri, yet bergantung sama diri sendiri, the driving force-nya harus ttp ada. Kadang pas selesai nulis, ngerasa “kok tulisan gue jelek ya? worth it gak buat terbit? baru gini aja kemampuan gue?” How sad that feeling. Mikirin, there’s still a long road to get thru. Tapi ya, aku mikir lagi, just create something! Nggak usah mikir macem2 seniman itu kerjaannya bikin karya, terus dan terus bikin karya, perkara banyak org yg suka atau nggak, worth selling atau nggak, itu masalah belakang. :’)

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s