The Hidden Beauty

Photo by Daria Shevtsova on Pexels.com

September lalu, di tanggal 11, usiaku beranjak 27 tahun. Sejujurnya, sejak  berumur 24 tahun aku selalu ingin melupakan tanggal lahirku agar pada saat hari itu tiba, tidak ada kejadian spesial. Di sinilah masalahnya. Kalau kau menganggap hari ulang tahunmu spesial, kau pasti punya ekspektasi, akan ada kejadian spesial di hari itu. Namun ketika kemudian tidak ada satu pun peristiwa spesial di hari itu, kau akan kecewa. And that’s the feeling I was avoiding forI don’t want to set expectation. The fear of crestfallen was bigger than the hope itself. The only hope that crossed my mind was that day would be as ordinary as the other day. Berharap hari itu sama aja seperti hari lainnya. Dan aku ingin melewatinya begitu saja tanpa kesadaran apa pun. Itulah harapanku saat itu. 

Pelan-pelan keinginan semacam itu berubah bentuk menjadi kebencian terhadap hari jadiku. Aku membencinya karena aku takut menghadapinya. Emosi yang samar namun mengalir terus-menerus di dalam diriku hingga memperjelas dirinya menjadi semacam ketakutan.

Kemudian pertanyaan ini bermunculan. Kenapa kau membencinya, kenapa kau ketakutan pada hari seharusnya kau tersenyum seperti yang orang lain lakukan pada hari ulang tahunnya. Kemudian atas pertanyaan ini tergelarlah sebuah daftar panjang yang membuatku ngeri. Semakin ngeri ketika aku (dalam usahaku berdamai dengan diri sendiri) harus belajar menerima realita diri yang ada, saat itu juga.

Ku pikir, hanya aku yang paling sering berbuat kesalahan di dunia ini. Yang membuatku sudah kehilangan alasan untuk menyayangi diri sendiri. Yang membuatku kesal pada bayanganku yang kulihat dalam cermin, lalu mengatakan “kau tidak layak hidup di dunia ini.”

Lalu buku yang kubaca mengatakan, bukan hanya aku yang “paling”. Semua orang di bumi ini pernah melakukan kesalahan. Jika mereka saja cukup sadar, I’m not alone in this case isn’t it? Dan itu cukup menghiburku.

Sedikit.

Ya, sesuatu yang menghibur tidak lantas menyelesaikan persoalan secara langsung. Ia hanya membukakan, melapangkan jalan bagimu agar kau mampu melihat ke sisi yang lebih terang.  Sebab jika kau terus menenggelamkan dirimu ke kegelapan, mata yang sehat dari jiwa yang tak sehat mana mampu melihat setitik cahaya pun, meski ada.

Kau terhibur. Dan menyadari kau bisa melewati 10 menit itu saja merupakan sebuah prestasi. Kau bersyukur kemudian mencari hal-hal baik, sesederhana apa pun, sekecil apa pun, di sekitarmu yang pernah terjadi dalam hidupmu. Semuanya layak untuk kau syukuri. Lalu kau tersenyum. Bisa tersenyum beberapa detik saja merupakan hal yang kau syukuri. Karena itu pertanda baik, bahwa sesuatu yang baik akan datang dan sedang dalam perjalanan.

Seorang teman yang sangat baik hatinya mengirimiku surat dan hadiah bonsai berwarna sakura. Dalam suratnya dia berkata, bulan september merupakan bulan musim gugur. Pada musim gugur, meski daun-daun berjatuhan, namun memberikan warna yang indah. Dan bahwa setelah ini musim semi akan datang. Dia memberiku daftar kenapa aku mestinya bahagia di hari ulang tahunku. Hey, the letter itself made me jumping for joy. I was so happy. So thankyou my friend.

Then I woke up, made up my mind. Maybe everything in my life has been falling apart but it can be the beauty of all the patches, so subtle that you can only see it by some effort.

I know this effort is what keeps the world revolving. Dan dengan berusaha, kita tumbuh. Effort seems like a fancy thing. Cause it’s hard for some of us. But it isn’t effort if it isn’t hard, right? Because if everything is easy as pie, you can easyly win by putting no effort. And that, in the learning curve, I grow, I may find the hidden beauty, even though I will realize it years and years later.

Foto: Instagram/Milla Rezanova

By Sofia Citradewi

Someone who finds joy and peace of mind during rainy days. A freedom seeker. Enjoying a comfortable and happy free life. email: sofiacitradewi@gmail.com

6 comments

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s