Perihal Resolusi Dan Diriku Yang Lalu

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Ini bulan Februari. Rasanya agak telat mau ngomongin resolusi. And frankly this post isn’t intended to jot down the so called my resolution. Penghujung tahun kemarin sebenarnya berniat memposting tulisan yang berhubungan sama resolusi, tapi nggak jadi. I ended up wrote a slightly reflective thoughts on my IG and about couple weeks later, i posted a real new years resolution of mine too.

Saat ini saya di kantor, pukul 19:00 WIB (hey I’m living in Jakarta now) menelusuri laman-laman favorite saya dan membaca beberapa kolom, saya tiba-tiba teringat akan diri saya yang duduk muram di sebuah cafe di Lombok, kampung halaman saya. Di depan laptop saya bergeming menatap layar putih itu. Belum ada satu pun kata-kata yang mampu saya ketik.

Saat itu menjelang tahun baru di tahun 2017. Apa yang ada dalam pikiran saya adalah, “Saya harus bagaimana lagi?” Saya bukan siapa-siapa, tidak bisa apa-apa, dan kehilangan ekspektasi. Bagi saya 2017 tak kalah buruknya dengan tahun 2016. Saya malas membuat resolusi, menghindari kecewa berulang karena tidak mampu mewujudkan resolusi itu. Ya… sepesimis itu diri saya pada saat itu.

‘New Years Resolutions’ are famous for their rate of failure. Dan benar saja, dari pengalaman saya hingga saat itu, as determined as we are when we write down those promises, we’re going to fall right back off the wagon in about a month.

(But, all hail to all of you—yang bisa sukses mencapai resolusi kalian dengan sempurna. Much respect!)

Terkadang bagi sebagian besar kita, si pengembara yang sedang mencari jalan pulang ini, beberapa atau bahkan banyak—daftar yang udah kita buat itu ternyata nggak tercapai. Mungkin salah satu karena ini: antara kita nggak mengukur diri kita secara realistis saat membuat resolusi itu, atau mungkin dalam prosesnya kita nggak cukup konsisten melakukan sesuatu yang bisa membuat kita semakin dekat kepada tujuan-tujuan itu. Atau mungkin juga ada alasan lain yang lebih personal lagi.

Katanya, kita bebas bermimpi sebesar apapun. Jadi kita tulis aja tuh ambisi-ambisi besar kita. Walaupun kita sendiri merasa nggak yakin dengan kemampuan diri, katanya pasti bakal ditunjukin jalannya sama Tuhan, asalkan kita udah berniat sungguh-sungguh. That’s one of the cliché thing that I heard gazillion times.

Saya lalu nggak mau nulis sesuatu yang kesannya skeptis atau pesimis banget. Saya berusaha mengingat sebuah kutipan dari sebuah artikel:

Although life is that hard, as long as we are breathing, we’re a fighter, and there’s always hope.

Berangkat dari quote itu, inilah yang saya ketik pada Desember 2017, di sebuah kedai kopi, suatu sore di jalan Cilinaya. Hujan baru saja menarik diri dari bumi.

—–

Bagi sebagian kita mungkin tahun lalu adalah tahun yang gemilang. When we look back, we feel proud and satisfied; we worked hard, we played hard, we learned things, and happy to celebrate a year we can truthfully call successful. For others however, it was not so kind.

Mungkin itu adalah tahun di mana kita menghadapi kenyataan yang completely lebih keras dari yang kita sangka-sangka. Atau tahun yang kelihatannya sama saja seperti tahun sebelumnya. Bahkan mungkin worst than any other year. Tahun di mana lagi-lagi kita merasa stumble.

Itulah manusia. Kecenderungannya untuk berbuat salah pada akhirnya berbuah penyesalan. Invariably saya.

Di sini saya nggak akan membahas apa resolusi saya. Saya menulis ini dengan intensi lebih kepada eksplorasi secara mendalam tentang perasaan dan pengalaman saya yang telah lewat. I feel an urge to reflect. I wanna take a stock of how far I’ve come.

Belakangan ini, Saya orangnya moody banget. Mereka menyebutnya baperan.

A shocking thing for me to admit, I’ve always been gloomy. Sendu, murung, dan muram. Lalu Saya bertanya pada diri sendiri, Saya mencari tahu kenapa saya suka tiba-tiba menangis di pojokan, without anyone having a clue.

Kenapa saya merasakan sakit yang rasanya seperti menggerogoti daging saya perlahan-lahan (if only, ya feel me?) oleh sesuatu yang saya nggak bisa lihat wujudnya. Kenapa saya lapar, tapi yang bisa masuk ke tubuh saya cuma 2 sendok makanan. Kalau Saya berusaha lebih dari itu, saya berasa mau muntah. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang masih banyak dan berujung… “kenapa saya nggak bahagia?”

Maka daftar jawabannya menjadi panjang dan semakin panjang. Jawaban yang saling terhubung dan melilit satu sama lain. Twisted thoughts. Semua itu riuh hanya di dalam kepala saya dengan kata lain: pikiran saya.

—–

Sampai di situ tulisan saya. Saya pulang dan entah apa yang membuat saya tak melanjutkannya lagi.

Berbicara tahun 2017, saya sudah lama sakit. Hingga pada momen itu, saya yang duduk merenung di depan laptop. I have those mental issues, yang sudah tertabung begitu lama, mengendap, menggerogoti dari dalam, and I always been in pain because of that.

Saya ingat kemudian, menangis sepanjang hari pada 25 Desember 2017. Literally sepanjang hari. I guess because of those familiar dip strikes me again. I broke down and cried. I had a lot of issues stemming from me not feeling adequate, in really key aspects of me as a person, as a daughter, as a… one of the society.

Sejak lama sebelum hari itu, yang saya rasakan adalah saya hanya ingin terlepas dari semua jeratan yang selama ini menghalangi saya bergerak maju. Menghalangi saya memilih jalan kebahagiaan saya sendiri. I was tired, really. Saya lelah merasakan sakit yang tidak fisikal itu. Sakit yang tidak terlihat itu. I just wanted to  move on. But ‘something’ always held me back.

Fakta bahwa: I was not okay, I was not happy, I was struggle to keep myself together, I couldn’t get myself to shrug it off, dan saya sangat menyedihkan.

Kenapa saya harus membiarkan diri saya TERGEROGOTI dalam situasi yang MENYIKSA, DAN MENYAKITKAN setiap hari? Saya telah berkali-kali mencoba bertahan. Berkali-kali mengingatkan diri saya akan jerih payahnya orang tua saya. Lalu saya mencobanya sekali lagi… saya gagal… mencoba lagi… gagal… mencoba lagi sampai saya tak tahu dimana endingnya. Dan selama siklus “gagal-coba lagi” itulah saya luar biasa sakitnya tanpa ada satu orang pun mengerti bentuk sakit yang saya rasakan saat itu. It was like there’s a monster that eat me inside.

But now, I want to hug her, the younger version of me. I want to shake her shoulder and smile, and say… “hold on sweetheart! Look at me, you made it. You’ll make it someday.”

By Sofia Citradewi

Someone who finds joy and peace of mind during rainy days. A freedom seeker. Enjoying a comfortable and happy free life. email: sofiacitradewi@gmail.com

3 comments

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s