Tahun 2020 ini emang berat buat kita semua. Dari awal tahun, ada banjir, kebakaran hutan, pandemi yang ngehe banget ini, blunder-blunder kebijakan pemerintah terkait mana yang lebih penting: ekonomi atau kesehatan di tengah pandemi, pertengkaran dua sastrawan di media sosial (yang menurut gue kekanak-kanakan) tuduh-menuduh seksis dan misoginis, atau upaya-upaya melawan patriarki, isu-isu LGBTQ rights di Indonesia, ditambah baru-baru ini time line lagi panas soal Omnibus Law.

Di tengah semua keributan social justice dan drama di Internet itu, gue nggak pernah ikutan speak up soal isu yang lagi rame. Palingan gue hanya ngelike atau nge-retweet yang bener-bener menyentuh hati nurani gue, yang emang bener-bener membela humanity. Gue nggak pernah mau ikutan komentar, atau nunjukin stance gue di mana.

Ini bukan berarti gue ignorant melainkan gue hanya merasa gak cukup ilmu. Gue cuma merasa perlu pelajari dulu dari dua sisi, off the screen. Semakin gue membaca dari berbagai sudut pandang, ada semacam rem yang kemudian tumbuh di diri gue. Rem yang menyuruh gue untuk lebih banyak diam dan mengingatkan gue untuk mempelajari sumber-sumber relevan, sebelum gue ikut speak up dengan stance yang cukup kokoh.

Gue yang awam ini (yang dulunya hanya mikirin kerja keras supaya bisa keluar dari lingkaran kemiskinan) menyadari kalau banyak “-isme” di luaran sana. Dan gue harus akui, mempelajari itu semua cukup melelahkan di tengah dinamika bahasan isu-isu sosial yang cepat sekali berganti terutama di sosial media. Gue belum punya stance yang kokoh di satu isu, eh seminggu kemudian muncul masalah baru lagi, memperjuangkan -isme yang lain.

Lalu di tengah upaya memahami dunia ini. Dunia yang problematik ini. Gue jadi ngerasa kehilangan suara gue sendiri. In a way, gue kehilangan cara memahami diri gue sendiri di tengah kondisi psikologis gue yang masih berantakan ini. Gue kurang sadar kalo jiwa kita juga bisa ngalamin yang namanya mental exhaustion. Mental exhaustion ini bisa bikin kita demotivasi, ngerasa bersalah terus, ngerasa “I should’ve done things better.”

Di postingan gue yang sebelumnya gue pernah nyebut kan, soal self-audit. Di satu sisi, gue ngerasa nothing wrong with self-auditing, lo perlu itu di satu titik dalam hidup lo. Supaya kita sadar kita lagi ada di mana. Dengan begitu kita bisa behave lebih moderat dan membuat keputusan yang lebih baik ke depannya.

Di satu sisi gue juga harus hati-hati, dan perlu bisa membedakan mana self-audit dan mana internalize shortcoming as identity, meaning, you believe one can not rebounce once she/he experiences a drawback. Karena yang kedua ini lebih bahaya, bikin kita gak mau keluar dari kekangan low self-esteem. Kita akan ngalamin demotivasi yang nggak selesai-selesai.

So, anyway… ini postingan arahnya ke mana dah… (wkwk peace).

Gue cuma mau cerita, (ngerasa lebih enak cerita lewat blog post aja daripada medsos…) bahwa gue dalam seminggu terakhir melakukan upaya merawat kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang pernah terjadi dan yang sedang berlangsung dalam hidup gue dan break dulu dari isu-isu sosial yang tengah ramai di bahas. Karena minggu lalu (saat gue terlalu lelah dan nggak tau lagi mau gue apain hidup gue ini) gue sempet konseling sama Psikolog, dan Psikolognya bilang kalau gue perlu berhenti berlari dulu untuk saat ini.

Persoalan hidup gue emang kompleks dan itu datang dari berbagai sisi, katanya. Gue ditanya kapan terakhir kali gue merasakan pure happiness aja, gue nggak bisa jawab saat itu. Gue nggak bisa inget kapan terakhir kali gue bahagia.

Setelah akhir-akhir ini gue kurang-kurangin melihat sosial-media yang constantly ribut dan depressing, lalu rutin mempraktikkan meditasi, rasanya, kabut-kabut mulai tersingkap. Hal-hal yang pernah bikin gue bahagia mulai terlihat, meskipun masih sedikit. Salah satunya, momen pertama kali gue menginjakkan kaki di Jakarta ini. Juga pas gue lagi masak, as it turned out I love cooking! because of this pandemic. Juga teringat saat gue dikirimi surat dan bonsai hadiah ulang tahun sama Sunny waktu gue masih tinggal di Lombok. Dan saat pertama kali seorang koki bilang “I love you” ke gue. Iya, gue apresiasi banget momen itu, meskipun sekarang kita udah bubar. :’)

Dan waktu gue dua kali piknik sama Sunny terus di piknik yang kedua dia tiba-tiba ngasi gue hadiah ulang tahun tumblr cantik ini.

Gue kenal Sunny sejak 2017. Lewat blog ini. Iya. persahabatan yang sangat gue cherish dan treasured ini, bermula saat gue follow blog dia. Gue suka tulisan-tulisan dia. Eh gue sampe bela-belain nyari komen pertama dia di blog gue. Here it is…

Haha. Looking back at this, gue pun jadi senyum sendiri. (Ok, one more happiness moment for today.)

Sunny, sahabat gue yang baiiik banget. Yang terakhir kali ketemu, bikin gue terharu, berderai-derai air mata. Thank you so much, untuk gak pernah luntur berada di sisi gue sampai sejauh ini. We know life can be so fucking awful right, but at least we find each other as comfort circle, don’t we? Now and forever, can we?

———-
Featured Photo © Kawin Harasai on Unsplash

4 thoughts on “Merawat Kebahagiaan Kecil

  1. Yaampun kok aku menangys baca postingan ini pagi2 wkwkw. Terharu sis, to know that you treasure me just the way that I do treasure youuu. I’m so happy that I was able to make you happy even by just those little things (small things matter, yes). Keep happy sisss. Btw fotonya upload yg pas kita piknik pertama aja lebih cakep wqwqwq.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s